Pacaran Tidak Dibenarkan dan Tidak Diperlukan (3)

Kamis, 08 Mei 2014

Perilaku dalam PACARAN

Menurut Imran (2000), ada beberapa bentuk perilaku dalam berpacaran adalah berbincang-bincang, berciuman, meraba, berpelukan, mast*rbasi, or*l, p**ting, dan int*rcourse. Penelitian yang dilakukan oleh Yarmato (2004) menyimpulkan bahwa sebanyak 45,9% (367 responden) memandang berpelukan dengan lawan jenis adalah hal wajar, 47,3% (378 responden) membolehkan cium pipi, 22% (176 responden) tidak menabukan cium bibir, 11% (88 responden) oke saja dengan n*cking alias cium leher atau cupang, 4,5% (36 responden) tak mengharamkan kegiatan meraba-raba, 2,8% (22 responden) menganggap wajar melakukan p**ting, dan 1,3% (10 responden) tak melarang s*nggama di luar nikah.

Bentuk-bentuk perilaku dalam berpacaran yang seperti ini menjadi landasan kuat atas kasus-kasus kehamilan remaja. Catatan konseling Sahaja menunjukkan kasus kehamilan tidak dikehendaki pada tahun 1998/1999, tercatat sebesar 113 kasus. Beberapa hal menarik berkaitan dengan catatan itu, di antaranya, hubungan s*ks pertama kali biasanya dilakukan dengan pacar (71%), teman biasa (3,5%), suami (3,5%); inisiatif hubungan s*ks dengan pasangan (39,8%), klien (9,7%), keduanya (11,5%); keputusan melakukan hubungan s*ks: tidak direncanakan (45%), direncanakan (20,4%); dan tempat yang biasa digunakan untuk hubungan s*ks adalah rumah (25,7%), hotel (13,3%) (Tito, 2001).

Perilaku dalam berpacaran sudah dicoba dibuatkan dalam bentuk yang sistematis sesuai urutan perilaku-perilaku orang dalam berpacaran, ditulis dalam artikel yang berjudul “Urutan Pacaran Anak Muda Jaman Sekarang” pada situs kolu.web.id. Namun, pada artikel tersebut, urutan-urutannya disebutkan dalam jumlah puluhan dan sangat detail sekali, terlalu panjang untuk dicantumkan di sini. Namun demikian, saya menemukan artikel yang isinya senada, tapi lebih ringkas. Langsung saja bisa dibaca berikut ini.

7 tahap dalam berpacaran berdasarkan aktivitas yang dilakukan dalam berpacaran:

Tahap 1 --> Dalam tahap ini, sepasang kekasih hanya saling bertatap mata saja dan berangan-angan jika nanti bla-bla-bla tentang hubungannya.

Langsung saja. Jelas hal ini dilarang dalam hukum Islam. Dalam ilmu fiqh, pada kitab Fathul Qorib, terdapat beberapa batasan mengenai pandangan terhadap lawan jenis. Dan, yang dilakukan orang berpacaran pada umumnya itu termasuk dalam kategori yang dilarang. Ucapkan Astaghfirulloh.. Akui dosamu dan bertaubatlah! Alqur-an mengingatkan secara jelas berikut:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْۗ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Surat AnNur: 30)

Nabi dalam haditsnya juga menyebutkan perihal zina mata, intinya bahwa zina mata dilakukan dengan melihat, dan yang dimaksud ialah ‘melihat/memandang lawan jenis’,

Tahap 2 --> dalam tahap ini, dua sejoli mulai berani berpegangan tangan ataupun bergandengan tangan.

Terang sekali. ‘memandang’ yang merupakan perilaku dari jarak jauh dan tidan bersentuhan sama sekali saja sudah dilarang, apalagi bergandengan tangan. Nabi juga pernah menyebutkan dalam haditsnya tentang zina tangan. Ini perbuatan dosa. Astaghfirullohal ‘adhim...

Tahap 3 --> lebih berani lagi, dalam tahap ini, pasangan lovers sudah tidak sungkan lagi untuk berpelukan.

Masya Alloh.. Apalagi sudah mulai berani melakukan hal ini, bukan suami-istri lagi. Jelas sekali berdosa. Astaghfirulloh Robbal baroya..

Tahap 4 --> lebih lebih berani lagi, dalam tahap ini, sang arjuna sudah mulai berani mencium pasangan cintanya.

Saya tidak bisa berkata apa-apa. Ini jelas dosa. Astaghfirulloh, yaa Rohim..

Tahap 5 --> agak lebih lagi, dalam tahap ini, kedua-duanya sudah saling berciuman, mouth to mouth.

Masya Alloh.. Nas alukal ‘afwa, ya Alloh, ya Karim...

Tahap 6 --> lebih parah lagi, dalam tahap ini, salah satu pasangan sudah mulai meraba-raba daerah terlarang.

Astaghfirullohal ‘adhim, innahu kana ghoffaro...

Tahap 7 --> paling parah, . . .

وَلَاتَقْرَبُوا الزِّنَىٰۖ إِنَّهُ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk”(Q.S.Al-Isro’: 32)

Dalil ini sudah sering sekali didengar. Sudah sangat jelas sekali larangan Alloh terhadap perbuatan zina. Bahkan, zina termasuk ke dalam dosa besar. Jika sudah pernah berhubungan intim (baik yang halal, berhubungan dengan istri yang sah, maupun yang tidak halal, alias zina), lalu melakukan zina, itu yang disebut dengan zina muhson, dosanya lebih besar. Istighfar yang teguh dan taubat yang sungguh-sungguh, semoga Alloh memberikan ampunan secara utuh! Yang belum pernah, semoga bisa menjaga diri. Semoga Alloh melindungi dan mengampuni kita semua.

(Bersambung ke bagian-4)
Oleh: Kangfuad

Artikel ini pernah diterbitkan oleh keluarga-sakinah.com dan diterbitkan di sini atas izin penulisnya.


 

Tulisan Terbaru