Pacaran Tidak Dibenarkan dan Tidak Diperlukan (2)

Kamis, 08 Mei 2014

Definisi PACARAN

Duvall (1985) dalam Anonim (2012) secara singkat menuturkan bahwa pacaran adalah hubungan antara pria dan wanita yang diwarnai keintiman. Sedangkan, menurut DeGenova (2005) dalam Anonim (2012), pacaran adalah menjalankan suatu hubungan dimana dua orang bertemu dan melakukan serangkaian aktivitas bersama agar dapat saling mengenal satu sama lain. Dan, masih banyak lagi pakar-pakar yang memberikan pengertian mengenai pacaran.

Berdasarkan beberapa pengertian oleh para pakar, Anonim (2012) menyimpulkan bahwa pacaran adalah serangkaian aktivitas bersama yang diwarnai keintiman (seperti adanya rasa kepemilikan dan keterbukaan diri) serta adanya keterikatan emosi antara pria dan wanita yang belum menikah dengan tujuan untuk saling mengenal dan melihat kesesuaian antara satu sama lain sebagai pertimbangan sebelum menikah.

Karakteristik PACARAN

Pacaran merupakan fenomena yang relatif baru, sistem ini baru muncul setelah perang dunia pertama terjadi. Hubungan pria dan wanita sebelum munculnya pacaran dilakukan secara formal, dimana pria datang mengunjungi pihak wanita dan keluarganya (dalam DeGenova & Rice, 2005).

Menurut DeGenova & Rice (2005), proses pacaran mulai muncul sejak pernikahan mulai menjadi keputusan secara individual dibandingkan keluarga dan sejak adanya rasa cinta dan saling ketertarikan satu sama lain antara pria dan wanita mulai menjadi dasar utama seseorang untuk menikah.

Pacaran saat ini telah banyak berubah dibandingkan dengan pacaran pada masa lalu. Hal ini disebabkan telah berkurangnya tekanan dan orientasi untuk menikah pada pasangan yang berpacaran saat ini dibandingkan sebagaimana budaya pacaran pada masa lalu (DeGenova & Rice, 2005). Tahun 1700 dan 1800, pertemuan pria dan wanita yang dilakukan secara kebetulan tanpa mendapat pengawasan akan mendapat hukuman. Wanita tidak akan pergi sendiri untuk menjumpai pria begitu saja dan tanpa memilih-milih. Pria yang memiliki keinginan untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita maka ia harus menjumpai keluarga wanita tersebut, secara formal memperkenalkan diri dan meminta izin untuk berhubungan dengan wanita tersebut sebelum mereka dapat melangkah ke hubungan yang lebih jauh lagi. Orang tua memiliki pengaruh yang sangat kuat, lebih dari yang dapat dilihat oleh seorang anak dalam mempertimbangkan keputusan untuk sebuah pernikahan.

Murstein (dalam Watson, 2004) mengatakan bahwa pada saat seorang individu menjalin hubungan pacaran, mereka akan menunjukkan beberapa tingkah laku seperti memikirkan sang kekasih, menginginkan untuk sebanyak mungkin menghabiskan waktu dengan kekasih dan sering menjadi tidak realistis terhadap penilaian mengenai kekasih kita. Menurut Bowman & Spanier (1978), pacaran terkadang memunculkan banyak harapan dan pikiran-pikiran ideal tentang diri pasangannya di dalam pernikahan. Hal ini disebabkan karena dalam pacaran baik pria maupun wanita berusaha untuk selalu menampilkan perilaku yang terbaik di hadapan pasangannya. Inilah kelak yang akan mempengaruhi standar penilaian seseorang terhadap pasangannya setelah menikah.

Alasan PACARAN

DeGenova (2005) dalam Anonim (2012) menyebutkan beberapa hal yang menyebabkan individu-individu berpacaran, antara lain:

  1. Pacaran sebagai bentuk rekreasi
  2. Pacaran memberikan pertemanan, persahabatan, dan keintiman pribadi
  3. Pacaran adalah bentuk sosialisasi
  4. Pacaran berkontribusi untuk pengembangan kepribadian
  5. Pacaran memberikan kesempatan untuk mencoba peran gender
  6. Pacaran adalah cara untuk memenuhi kebutuhan akan cinta dan kasih sayang
  7. Pacaran memberikan kesempatan bagi percobaan dan kepuasan s*ksual
  8. Pacaran adalah cara untuk menyeleksi pasangan hidup
  9. Pacaran mempersiapkan individu menuju pernikahan

Duvall (1985) dalam Anonim (2012) menambahkan beberapa alasan lain, yakni bahwa pacaran dilihat sebagai sesuatu yang menyenangkan dan menghibur. Beberapa orang berpacaran karena begitulah yang semua orang lakukan. Seseorang berpacaran karena itulah yang diharapkan; jika tidak pacaran, orang akan mengira ada yang salah pada dirinya. Tekanan sosial dan penghindaran dari kritik sosial juga menjadi alasan orang berpacaran. Bahkan, banyak lagi orang yang tidak tahu mengapa berpacaran. Pacaran hanya dijadikan sebagai sebuah cara untuk melewati masa antara pubertas dan dewasa awal.

Dari sekian banyak alasan untuk berpacaran, tidak satu pun yang merupakan alasan atau pun ‘udzur syar’iy (alasan/udzur yang dibolehkan agama), sehingga tidaklah dibenarkan jika melanggar aturan yang dilarang agama karena tidak ada alasan ataupun kondisi yang bisa membolehkan seseorang untuk melakukan pelanggaran atas yang telah dilarang oleh-Nya. Tapi, dua alasan yang berkaitan dengan pernikahan tadi yang membuat geli telinga saya ketika harus mendengar alasan itu. Sebab, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada subbab Karakteristik PACARAN oleh Bowman (1978) bahwa pacaran terkadang memunculkan banyak harapan dan pikiran-pikiran ideal tentang diri pasangannya di dalam pernikahan. Hal ini disebabkan karena dalam pacaran baik pria maupun wanita berusaha untuk selalu menampilkan perilaku yang terbaik di hadapan pasangannya. Inilah kelak yang akan mempengaruhi standar penilaian seseorang terhadap pasangannya setelah menikah. (Ulangan Penjelasan biar lebih terang, gan.)

Nah, dari sini, jelas tidaklah benar adanya berpacaran dengan alasan untuk modal pernikahan, menyeleksi calon pasangan hidup, mempersiapkan diri untuk menikah, dll. Sebab, ternyata, selama masih pacaran, pria maupun wanita berusaha untuk menampilkan perilaku yang terbaik di hadapan pasangannya. Maka, ada kecenderungan untuk menutup-nutupi ‘keburukan’ yang seharusnya diungkap secara jujur, terus terang, dan jantan saja. Pertanyaan saya, lalu, apakah ‘ketidakterbukaan’ ini yang akan menjadi modal pernikahan? Apakah pernikahan yang merupakan janji suci untuk hidup bersama ‘selamanya’ itu akan didasarkan pada sebuah ‘kebohongan’? itukah yang diharapkan orang berpacaran sebagai modal untuk menikah di masa depan? Sungguh tidak relevan.

Pernikahan yang didasarkan pada hal indah yang sebenarnya palsu tidaklah terasa manis. Banyak yang sudah secara tidak langsung membuktikan hal ini. Sehingga, muncul istilah “(saat pacaran, semuanya indah, tapi setelah menikah) tak seindah dulu”. Orang sudah berpacaran dalam waktu terhitung dalam skala tahunan, sudah mantap menghadang masa depan, ternyata semua keindahan itu seakan sirna tak berbekas dan hanya menyisakan kenangan. (Jelas saja “sirna”, memang sebenarnya tidak ada, hanya keindahan yang dibuat-buat alias palsu..)

(Bersambung ke bagian-3)
Oleh: Kangfuad

Artikel ini pernah diterbitkan oleh keluarga-sakinah.com dan diterbitkan di sini atas izin penulisnya.


 

Tulisan Terbaru