Pacaran Tidak Dibenarkan dan Tidak Diperlukan (1)

Kamis, 08 Mei 2014

Sejujurnya, saya bingung mesti memulai dari mana. Sebab, jauh sebelum saya menulis ini pun, sudah banyak sekali kisah-kisah romantika antara dua anak manusia. Sebut saja Adam a.s. dengan Hawa yang merupakan nenek moyang kita, Yusuf a.s. dengan Zulaikha-lelaki tertampan dan wanita tercantik sedunia-, sang pujangga ternama Qais dengan Layla, dan banyak lainnya. Iya. Namanya adalah cinta. Orang bilang “Cinta membawa kita ke tempat yang sungguh indah, tempat yang dapat melupakan kebencian dan membawa kita bahagia”. Atau, mungkin, bisa dibilang “ Cinta ialah rasa yang sangat mahal, karena takkan bisa terjual, hanya bisa ditukar dengan rasa yang sejajar. Cinta ialah rasa yang sangat langka, karena tak mudah ditemukan, hanya bisa dirasakan. Cinta ialah rasa yang ekstrim, dalam tapi tak terukur kedalamannya, silau membutakan tapi penuh keindahan”. Dan, masih banyak lagi ungkapan-ungkapan manis tentang cinta.

Cinta itu seperti sensasi wajib bagi semua orang. Setiap manusia diciptakan dengan cinta dan sasarannya di dada. Satu ayat Alqur-an yang menyinggung hal demikian berbunyi:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَٰتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ الْحَيَوٰةِ الدُّنْيَاۖ وَاللّهُ عِندَهُو حُسْنُ الْمَئَابِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Alloh-lah tempat kembali yang baik (surga)” (Surat Ali ‘Imron: 14)

Dalam ayat tersebut, dari sekian banyak yang disukai dan diingini manusia secara global, “wanita”-lah yang disebut pertama kali. Menurut saya, memang yang memiliki daya magnet paling kuat untuk hal “cinta” adalah wanita. Banyak orang tergila-gila soal cinta kepada satu sosok wanita yang disebut-sebut sebagai tambatan hati, belahan jiwa, dan lain sebagainya. Kenyataannya, seorang wanita mampu membuat Daud a.s. berkeinginan kuat untuk secara skematis membunuh salah satu bawahannya yang mempunyai istri cantik yang ingin dinikahinya sendiri. Demikian dan banyak cerita-cerita lelaki gagah perkasa yang dibuat takluk tak berdaya di hadapan sang “cinta”.

Nah, dari sini, saya kira merupakan hal yang wajar, normal, dan manusiawi sekali bahwa seseorang mengalami jatuh cinta ketika merasa menemukan sosok yang menarik hatinya. Sama halnya, saat jalan-jalan di Mall, misalnya, lalu menemukan barang cantik yang disuka, senang sekali melihatnya, apalagi kalau pas ada uang, pasti dibeli, karena ingin rasanya bisa memiliki. Demikian halnya dengan orang kasmaran (katanya). Rasa ingin “memiliki” itu akan muncul. Namun, tentunya, cara “memiliki”-nya berbeda. Termasuk tahapan-tahapan yang dilakukan dalam proses untuk bisa “memiliki” itu pun jauh berbeda. Karena yang hendak di-“miliki” dan yang ingin “memiliki” itu sama-sama manusia, maka perlu adanya komunikasi, mungkin juga yang disebut sebagai menjalin hubungan, membuat komitmen, dan lain sebagainya.

Beberapa tahapan tadi, beberapa diantaranya ada yang perlu diperhatikan. Bukan apa-apa, melainkan untuk lebih menjaga diri dari melakukan hal yang dilarang agama. Daripada terlanjur membuang-buang uang, waktu, dan tenaga hanya untuk melakukan hal yang berujung dosa, lebih baik ditinjau ulang terlebih dahulu langkah-langkah yang salah. Karena langkah sekecil apapun kalau salah, juga akan menjadi perhitungan di akhirat nanti. Salah satu yang menjadi sorotan dan yang menjadi bahan utama saat ini adalah soal PACARAN.

Oleh: Kangfuad

Artikel ini pernah diterbitkan oleh keluarga-sakinah.com dan diterbitkan di sini atas izin penulisnya.


 

Tulisan Terbaru