Jumat, 05 Juli 2013

Siapakah Penemu Angka Nol?

Nol-150x150

Meskipun umat manusia sejak awal peradabannya telah memahami konsep ‘ada dan tiada’, konsep nol merupakan sebuah konsep yang relatif baru dalam sejarah peradaban umat manusia. Konsep nol baru sepenuhnya dikembangkan pada abad kelima masehi. Nol, ditemukan secara independen oleh orang-orang Babilonia, Maya, dan India (meskipun beberapa peneliti mengatakan sistem bilangan India terpengaruh oleh Babilonia).

Pada saat ini, nol — baik itu sebagai simbol (atau angka) dan sebagai konsep yang berarti tidak adanya kuantitas apapun — memungkinkan kita untuk melakukan perhitungan persamaan-persamaan rumit.

Sejarah awal: Babilonia

Bangsa Babilonia mendapatkan sistem penomoran mereka dari bangsa Sumeria, bangsa pertama di dunia yang mengembangkan sistem perhitungan. Dikembangkan 4000 – 5000 tahun yang lalu, sistem perhitungan Sumeria adalah posisi — nilai simbol tergantung pada posisinya yang relatif terhadap simbol lainnya.

Nol ditunjukkan dengan dua wedges miring (tengah)
Nol ditunjukkan
dengan dua wedges
miring (tengah)
Robert Kaplan, penulis “The Nothing That Is: A Natural History of Zero“, menunjukkan bahwa bangsa Babilonia menggunakan sepasang simbol wedges miring yang digunakan untuk mempresentasikan sebuah kolom nomor kosong. Namun, Charles Seife, penulis “Zero: The Biography of a Dangerous Idea” tidak setuju dengan gagasan tersebut.

Sistem Sumeria melewati Kekaisaran Akkadia ke Babilonia sekitar tahun 300 SM. Para ahli setuju bahwa simbol yang muncul itu merupakan pengganti angka nol, bahwa simbol tersebut merupakan sebuah cara untuk mengetahui 10 dari 100 atau untuk menandakan bahwa dalam angka 2025 tidak ada nomor di kolom ratusan. Pada awalnya, Babilonia menggunakan ruang kosong di sistem nomor tulisan kuno mereka, tetapi karena itu membingungkan, digunakanlah dua wedges miring untuk mewakili kolom kosong tersebut. Namun, mereka tidak pernah mengembangkan gagasan nol tersebut sebagai angka (nomor).

Nol di Amerika: Bangsa Maya

Nol ditunjukkan oleh mata.
Nol ditunjukkan oleh mata.
Enam ratus tahun kemudian (atau tahun 350 M) di wilayah yang berjarak 12 ribu mil dari Babilonia, bangsa Maya mengembangkan nol  dan menggunakannya di sistem kalender rumit mereka. Meskipun sangat terampil dalam bidang matematika, bangsa Maya tidak pernah menggunakan nol dalam persamaan. Namun Kaplan menggambarkan bahwa penemuan nol oleh bangsa Maya sebagai “contoh yang paling mencolok dari nol yang dibuat sepenuhnya dari awal.”

Nol menjadi nomor: Bangsa India

Beberapa ahli berpendapat bahwa konsep Babilonia merajut jalan hingga ke India dalam pengembangan nol, namun beberapa ahli lainnya mengatakan bahwa India mengembangkan angka nol mereka sendiri.

Nol ditunjukkan oleh titik
Nol ditunjukkan oleh titik
Konsep nol pertama kali muncul di India sekitar tahun 458 M. Konsep ini muncul pertama kali bukan dalam bentuk simbol, tetapi dalam pengucapan yang diucapkan pada persamaan matematika, puisi, atau nyanyian. Beberapa kata yang berbeda melambangkan nol, seperti “hampa”, “ruang”, atau “angkasa”.

Pada tahun 628, seorang astronom dan ahli matematika India yang bernama Brahmagupta mengembangkan angka untuk nol, yaitu sebuah titik. Dia juga mengembangkan operasi matematika menggunakan nol, menulis aturan untuk mencapai nol melalui penambahan dan pengurangan, dan menggunakan nol dalam sebuah persamaan. Ini adalah pertama kalinya di dunia nol diakui sebagai jumlah tersendiri, baik sebagai sebuah ide dan simbol.

Nol, dari Timur Tengah sampai ke seluruh dunia

Selama beberapa abad berikutnya, konsep nol terungkap di Cina dan Timur Tengah. Menurut Nils-Bertil Wallin dari YaleGlobal, pada tahun 773 M, nol mencapai Baghdad di mana ia menjadi bagian dari angka Arab, yang didasarkan pada sistem India.

Seorang ahli matematika Persia, Muhammad ibnu Musa al-Khawarizmi, menyarankan bahwa lingkaran kecil harus digunakan dalam perhitungan jika tidak terdapat suatu nomor di tempat puluhan. Orang-orang Arab menyebut lingkaran ini sebagai “sifr” atau “kosong”. Angka nol sangat penting untuk al-Khawarizmi yang menggunakannya untuk menciptakan aljabar pada abad kesembilan. Al-Khawarizmi juga mengembangkan metode untuk mengalikan dan membagi angka yang disebut algoritma, yang diambil dari namanya.

Angka nol mencapai Eropa melalui penaklukan Spanyol (Andalusia) oleh bangsa Moor (muslim dari Maroko pada zaman pertengahan). Angka nol kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh matematikawan Italia, Fibonacci, yang menggunakannya untuk melakukan perhitungan tanpa sempoa. Perkembangan ini sangat populer di kalangan pedagang yang menggunakan persamaan Fibonacci yang melibatkan nol. Kemudian pemerintah Italia mencurigai penggunaan angka Arab dan melarang penggunaan angka nol. Namun, para pedagang terus menggunakannya secara diam-diam, dan kata Arab untuk nol “sifr” membentuk sebuah kata baru yaitu “cipher”, yang tidak hanya berarti karakter numerik, tetapi juga berarti “sandi” atau “kode”.

Pada tahun 1600-an, angka nol digunakan cukup luas di seluruh Eropa. Hal itu didasarkan kepada sistem koordinat kartesian oleh Rene Descartes dan juga perkembangan kalkulus oleh Sir Isaac Newton dan Gottfried Wilhem Liebniz. Kalkulus membuka jalan bagi fisika, teknik, komputer, dan juga teori keuangan dan ekonomi. Mulai saat itulah angka nol tersebar ke seluruh dunia.

Sumber: Livescience

Silakan masuk terlebih dahulu ke akun Google Anda untuk berkomentar di blog ini. Komentar yang Anda masukkan akan dimoderasi terlebih dahulu. Komentar yang tidak sesuai dengan syarat dan ketentuan tidak akan disetujui.
EmoticonEmoticon