Jumat, 17 Mei 2013

Rukun dan Syarat Jual Beli dalam Islam

Jual beli menurut bahasa adalah menukarkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Sementara itu menurut terminologi syariat Islam adalah menukarkan suatu harta dengan harta yang lain dengan cara tertentu (diizinkan syara’). Jual beli dalam Islam memiliki beberapa aturan yang bertujuan untuk memuaskan kedua belah pihak (pembeli dan penjual), sehingga pembeli dapat mencapai kehalalan barang yang dibeli demikian pula dengan pihak penjual. Allah berfirman (artinya): Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (Q.S. An-Nisa’: 29).

Aturan jual beli dalam Islam meliputi syarat dan rukun, di mana rukun adalah komponen substansial (pokok) dari sebuah transaksi, sedangkan syarat adalah sebagai penentu dan pengikat layak atau tidaknya sesuatu menjadi komponen substansial dari transaksi tersebut. Berikut ini rukun dan syarat jual beli menurut 4 (empat) madzhab:

a. Madzhab Syafi’i
  1. Aqid (penjual dan pembeli). Syaratnya harus ithlaq al-tasharruf (memiliki kebebasan pembelanjaan), tidak ada paksaan, muslim (jika barang yang dijual semisal mushaf), bukan musuh (jika barang yang dijual alat perang). 
  2. Ma’qud ‘alaih (barang yang dijual dan alat pembelian). Syaratnya harus suci, bermanfaat (menurut kriteria syariat), dapat diserahterimakan, dalam kekuasaan pelaku akad, dan teridentifikasi oleh pelaku akad.
  3. Shighat (Ijab dan Qabul). Syaratnya tidak diselingi oleh pembicaraan lain, tidak terdiam di tengah-tengah dalam waktu lama, terdapat kesesuaian antara pernyataan ijab dan qabulnya, tidak digantungkan kepada sesuatu yang lain, dan tidak ada batasan masa.
Di kalangan madzhab Syafi’i jual beli dengan mu’athah (tanpa pernyataan ijab qabul) tidak sah, namun menurut ulama’ Syafi’iyah adalah sah untuk barang-barang di mana tanpa ijab qabul sudah dianggap sebagai jual beli atau untuk barang-barang dengan harga kecil.

b. Madzhab Hanafi 
  1. Ijab 
  2. Qabul 
Menurut madzhab Hanafi, jual beli dapat terjadi (in’iqad) hanya dengan ijab dan qabul. Jadi in’iqad adalah keterikatan pembicaraan salah satu dari dua pihak yang berakad dengan lainnya menurut syari’at atas suatu cara yang tampak hasilnya pada sasaran jual beli. Maka, jual beli menurut madzhab ini merupakan atsar syari’ (hasil nyata secara syari’at) yang tampak pada sasaran (jual beli) ketika terjadi ijab qabul, sehingga pihak yang berakad memiliki kekuasaan melakukan tasharruf. Untuk mencapai atsar yang nyata melalui ketersambungan ijab qabul, maka pihak pelaku (aqid) disyaratkan harus sehat akalnya dan mencapai usia tamyiz. Pada sasaran ijab qabul harus berupa harta yang dapat diserahterimakan. Mengenai jual beli dengan cara mu’athah, madzhab Hanafi memperbolehkan secara mutlak baik itu pada barang berharga besar maupun kecil, kecuali menurut pendapat al-Karkhi yang hanya memperbolehkan pada barang-barang yang kecil. 


c. Madzhab Maliki 

  1. Shighat. Harus merupakan sesuatu yang dapat menunjukkan ridha (saling setuju) dari pihak aqid, baik berupa perkataan atau isyarat dan tulisan. Madzhab Maliki memperbolehkan jual beli dengan cara mu’athah
  2. Aqid. Syaratnya harus tamyiz (sudah dapat memahami pertanyaan dan mampu menjawabnya). Dalam madzhab ini aqid tidak disyaratkan muslim walaupun barang yang dijual berupa mushaf
  3. Ma’qud ‘alaih. Syaratnya harus suci, dapat diserahterimakan, teridentifikasi, tidak terlarang penjualannya, dan dapat diambil manfaatnya. 
d. Madzhab Hambali 
  1. Aqid. Syaratnya harus memiliki kepatutan melakukan tasharruf, yaitu harus sempurna akalnya, baligh, mendapat izin, kehendak sendiri, dan tidak sedang tercegah tasharrufnya. 
  2. Ma’qud ‘alaih. Syaratnya memiliki manfaat menurut syari’at, boleh dijual oleh pihak aqid, dimaklumi bagi kedua belah pihak yang melakukan akad dan bisa diserahterimakan, dan di samping semua itu harus tidak bersamaan dengan sesuatu yang menghalanginya, yaitu larangan syara’
  3. Ma’qud bih (Shighat). Syaratnya harus berupa perkataan yang dapat menunjukkan persetujuan dan suka sama suka antara dua belah pihak. Tentang mu’athah, dalam madzhab Hambali terdapat tiga pendapat, yaitu membolehkan, tidak membolehkan, dan membolehkan hanya pada barang yang berharga kecil. 
Dari uraian di atas, rukun jual beli menurut empat madzhab kecuali madzhab Hanafi adalah sama, yaitu aqid, ma’qud ‘alaih, dan shighat/ma’qud bih. Sementara dalam madzhab Hanafi rukunnya hanya satu yaitu shighat (ijab dan qabul). Legal formal terbangunnya jual beli ditentukan oleh syarat dan rukunnya. Namun dalam prakteknya juga harus berpijak pada asasnya yaitu Islam. Sebab jika asasnya diabaikan, maka bisa menimbulkan hukum terlarang (haram) dan bahkan sampai merusak validitas akad jual beli itu sendiri.

    Artikel di atas disarikan dari makalah “Perdagangan dalam Perspektif Theologi, Etika, dan Hukum Islam” oleh KH. Ahmad Asyhar Shafwan. Makalah ini disampaikan dalam Seminar Keislaman (SALAM) CSS MoRA ITS dengan tema “Multi Level Marketing (MLM) dalam Perspektif Hukum Islam” tahun 2009.
    Gambar oleh Rod Waddington from Kergunyah, Australia (Old City Market, Sana'a) [CC BY-SA 2.0] via Wikimedia Commons

Silakan masuk terlebih dahulu ke akun Google Anda untuk berkomentar di blog ini. Komentar yang Anda masukkan akan dimoderasi terlebih dahulu. Komentar yang tidak sesuai dengan syarat dan ketentuan tidak akan disetujui.
EmoticonEmoticon