Asas dan Karakteristik Perdagangan dalam Islam

Selasa, 14 Mei 2013

Agama Islam merupakan agama yang sempurna karena mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Islam merupakan sebuah aturan, norma, pola hidup yang melingkupi kehidupan manusia dan menjadi pedoman dalam menjalankan kehidupannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Q.S. Al-Maidah: 3).

Pedoman dalam Islam dijabarkan dalam suatu ilmu yang disebut dengan fiqih Islam. Secara umum, fiqih Islam dibagi menjadi empat, yaitu; ibadah, mu’amalah, munakahah, dan jinayat. Di sini akan dijelaskan mengenai perdagangan, apa saja yang dibolehkan dan yang dilarang dalam berdagang. Perdagangan dalam ilmu fiqih masuk dalam pembahasan mu’amalah. Asas dalam perdagangan Islam adalah Islam itu sendiri yang meliputi tiga aspek yaitu aqidahakhlaq (moral), dan syari’ah (hukum).

Perdagangan dalam Islam memiliki beberapa karakteristik, antara lain;

1. Harta adalah milik Allah dan manusia hanyalah sebagai khalifah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): Nafkahkanlah (keluarkan) sebagian dari sesuatu (harta) di mana Allah telah menjadikan kamu sebagai khalifah (penguasa atas harta itu)(Q.S. Al-Hadid: 7).

Muhammad Ali Al-Shabuni dalam Al-Tashil fi ‘Ulum Al-Tanzil menjelaskan pengertian khalifah berikut ini: “Semua harta yang ada di tanganmu pada hakekatnya adalah milik Allah karena Dialah yang menciptakannya. Tetapi Allah memberikan hak kepadamu untuk memanfaatkannya. Allah menjadikan kamu sebagai wakil-wakil-Nya dalam penggunaan harta-Nya tersebut. Jadi peran kamu dalam pemanfaatan harta hanya seperti wakil dari pemilik, bukan pemilik yang sesungguhnya. Karena itu janganlah kamu merintangi penginfakannya (penyaluran harta Allah) kepada pihak-pihak yang diperintahkan Allah sebagai pemiliknya agar kamu laksanakan.”

2. Terikat dengan aqidahsyari’ah (hukum), dan akhlaq (moral)
Sebagai seorang mukmin (orang yang beriman), ajaran Islam harus menjadi pedoman secara keseluruhan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan dalam firman-Nya (artinya): Hai orang-orang yang berfirman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya. (Q.S. Al-Baqarah: 208). Ajaran Islam merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, sehingga dalam kegiatan ekonomi dalam Islam juga tidak dapat dipisahkan dengan ajaran Islam yang lain. Maka dalam kegiatan mu’amalat pun harus terbimbing dan terikat dengan aqidah, syari’ah, dan akhlaq.

3. Seimbang antara urusan ruhani (akhirat) dan urusan keduniaan
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan(Q.S. Al-Qashash: 77).

4. Adil dan seimbang dalam melindungi kepentingan ekonomi individu dan masyarakat
Islam memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk memiliki harta namun dalam batas-batas tertentu untuk mencegah tindak kezaliman melalui harta. Negara juga diberikan kesempatan untuk menguasai dan mengatur harta demi mewujudkan kemakmuran bersama, bukan dijadikan sebagai alat kesewenang-wenangan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (Q.S. An-Nisa’: 29). Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (Q.S. Al-Isra:26)

Sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dalam sebagian khutbah baiat khilafahnya mengatakan (artinya): Orang lemah di kalangan kalian adalah kuat di sisiku hingga aku ambilkan haknya, orang kuat di kalangan kalian adalah lemah di sisiku hingga aku ambilkan hak dari padanya.

5. Tidak berlebihan dalam memanfaatkan harta kekayaan
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): (Sifat hamba Allah yang mendapatkan kemuliaan adalah) orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian(Q.S. Al-Furqan: 67).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya): Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah dengan tanpa berlebihan dan sombong(H.R. Abu Dawud dan Ahmad).

6. Kelestarian sumber daya alam
Fenomena kelangkaan sumber daya alam adalah akibat dari aktivitas negatif manusia seperti peperangan, kemewahan, dan kebiasaan yang merugikan lingkungan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman. (Q.S. Al-A’raf: 85).

7. Kerja (tidak menunggu)
Meskipun rezeki sudah dijamin oleh Allah, namun diperlukan juga suatu usaha untuk menjemput rezeki tersebut. Bagaimanapun juga rezeki tidak dapat datang dengan sendirinya jika hanya bermodalkan doa. Dalam suatu pepatah disebutkan “Berdoa tanpa berusaha bohong, berusaha tanpa berdoa sombong”. Bekerja untuk mencari rezeki yang halal dalam Islam merupakan sebuah ibadah dan jihad di jalan Allah. Allah berfirman (artinya): Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung(Q.S. Al-Jumuah: 10). Rasulullah pernah ditanya: Usaha apa yang paling baik atau utama? Beliau menjawab: Usaha seorang laki-laki dengan tangannya dan setiap jual-beli yang baik.

8. Zakat
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mewajibkan manusia untuk membayar zakat, yaitu menyisihkan sebagian kecil dari hartanya untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya. Zakat dimaksudkan untuk membersihkan jiwa dari kikir, dendam, dan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Allah berfirman (artinya): Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka. (Q.S. At-Taubah: 103). Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. At-Taubah: 60).

9. Larangan Riba
Riba merupakan penyelewengan uang dari bidangnya sebagai alat transaksi dan penilai barang. Islam sangat melarang tindakan riba karena memiliki efek negatif di antaranya sifat kikir, egois, tega, cemas, rakus, dan tidak berani menghadapi resiko (karena terbiasa menanti keuntungan saja). Sementara efek negatif riba di tingkat masyarakat adalah memperluas jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin. Allah berfirman (artinya): Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S. Ali Imran: 130). Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa: Rasulullah melaknat orang yang memakan riba,orang yang memberi makanan riba, orang yang mencatat riba, dan para saksi riba. Beliau bersabda: mereka itu sama(H.R. Muslim).

Artikel di atas disarikan dari makalah “Perdagangan dalam Perspektif Theologi, Etika, dan Hukum Islam” oleh KH. Ahmad Asyhar Shafwan. Makalah ini disampaikan dalam Seminar Keislaman (SALAM) CSS MoRA ITS dengan tema “Multi Level Marketing (MLM) dalam Perspektif Hukum Islam” tahun 2009.


 

Tulisan Terbaru